LPA

Kamis, 10 November 2011

Cara-Cara Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar

Pembelajaran matematika yang baik menuntut penggunaan metode-metode pembelajaran yang bervariasi. Hal ini masuk dalam logika, karena suatu topik matematika, kadang-kadang dapat diajarkan secara lebih baik hanya dengan metode tertentu. Jika guru matematika hanya menggunakan satu jenis metode mengajar, maka akan membuat para siswa menjadi lebih cepat bosan atau jemu terhadap pesan yang disajikan.

Terdapat banyak metode pembelajaran matematika di Sekolah Dasar yang digunakan antara lain :

1. Metode Ekspositori
Metode eksposition sering disebut dengan metode ceramah, guru menjelaskan dan menyampaikan informasi, pesan atau konsep kepada siswa. Langkah-langkah pengajaran eksposition adalah sebagai berikut :
Pertama, guru menuliskan topik, menginformasikan tujuan pembelajaran, menyampaikan dan mengulas materi prasyarat, serta memotivasi siswa.
Kedua, guru menjelaskan dan menyajikan pesan kepada siswa dengan lisan atau tertulis.
Ketiga, guru meminta siswa mengerjakan soal dengan menggunakan konsep yang disampaikan guru.

2. Metode Penemuan
Metode penemuan mendorong siswa memahami sesuatu. Sesuatu tersebut dapat berupa fakta, atau relasi matematika yang masih baru bagi siswa, misalnya pola, sifat-sifat atau rumus tertentu.
Metode penemuan sering memakan waktu lama, karena kegiatan ini mengembangkan konsep maupun ketrampilan matematika dan kaitannya dengan pemecahan masalah maupun ketrampilan matematika dan kaitannya dengan pemecahan masalah.

3. Metode Laboratori
Metode laboratori merupakan metode mengajar yang orientasi kegiatannya didasarkan atas percobaan dan penyelidikan dengan objek-objek fisik.
Siswa melakukan penyelidikan individual, berpasangan atau berkelompok dengan menggunakan benda-benda yang dapat dimanipulasi.
Dalam pembelajaran matematika, juga dapat menggunakan berbagai macam teori belajar salah satu diantaranya adalah teori belajar J.S Bruner.
Dalam teorinya Bruner mengungkapkan 3 tahapan belajar yaitu :
1. Tahap Enactive
Siswa belajar konsep matematika dengan memanipulasi benda-benda (objek) kongkret secara langsung.
2. Tahap Iconik (Pictorial)
Siswa memahami konsep matematika yang bersifat abstrak itu dengan bantuan model-model semi kongkret berupa gambar atau grafik, tabel, bagan peta dan lain sebagainya.
3. Tahap Symbolic
Siswa belajar konsep dan operasi matematika langsung dengan kata-kata atau simbol-simbol tanpa bantuan objek konkret maupun model semi kongkret.
Pada pengerjaan hitung bilangan campuran konsep yang disajikan harus cara lisan dan verbal, dan ini sesuai dengan pengajaran dengan menggunakan metode ekspositori. Walaupun metode pembelajaran ini terarah dari guru, namun proses dan hasil pembelajarannya dalam pengerjaan hitung bilangan campuran akan lebih efektif.
Bilangan campuran itu sendiri adalah bilangan bulat yang dalam penghitungannya terdapat berbagai unsur tanda hitung. Misalnya : (24 x 10) : 18 – 10 = ....

Dalam pengerjaan bilangan campuran sangat diperlukan konsep-konsep yang terarah. Pada tahap penanaman konsep biasanya guru menggunakan berbagai macam teknik.

Didalam metode ekspositori guru menggunakan teknik aturan yang merupakan proses mengajar dimana guru mengemukakan aturan-aturan, hukum, prosedur atau rumus tertentu untuk diikuti siswa. Teknik ini hampir sama dengan teknik definisi dan contoh. Teknik kedua yang digunakan adalah teknik analisis yang merupakan suatu proses mengajar dimana guru berusaha memilah-milah atau menguraikan suatu konmsep kedalam langkah-langkah tertentu.

Sumber : www.sekolahdasar.net

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar